Kebijaksanaan versi Indonesia

Seperti apa ya orang yang bijaksana dalam pandangan orang Indonesia?

Ada 5 karakteristik orang yang bijaksana versi orang Indonesia (Basri, 2001), yaitu:

(a) memiliki kondisi spiritual-moral yang baik (bertakwa, religius/beriman, saleh, tawakal, sederhana/bersahaja kehidupannya, tutur kata halus/lemah lembut/sopan santun, tabah, dan tegas)

(b) Mampu berinteraksi dengan orang lain (murah hati, mau berkorban, penyayang pada semua, tulus ikhlas, mengayomi/melindungi, pemaaf, penuh pengertian)

(c) mempunyai kemampuan menilai dan mengambil keputusan (meninjau permasalahan dari berbagai sudut pandang, lebih memperhatikan kepentingan orang banyak daripada kepentingan pribadi, mampu memutuskan secara tepat, filosofis/berpandangan menyeluruh terhadap kehidupan, adil)

(d) memiliki kondisi personal yang baik (mawas diri, bertanggungjawab, konsekuen, percaya diri)

(e) memiliki  kemampuan khusus/istimewa (cerdas/kompeten, intuitif, berpengetahuan dan berwawasan luas,
berempati).

Ternyata tidak mudah ya menjadi orang yang bijaksana 😀 tapi semua mungkin saja terjadi ya teman 👍

 

 

strategi refleksi

Refleksi pengalaman hidup sulit atau yang sifatnya traumatis, biasanya cenderung dihindari individu. Padahal, kalau kita melakukan refleksi dengan strategi yang “benar”, maka hal ini justru akan membuat “pencerahan” dan menimbulkan insight dalam diri kita. Dengan demikian, kita dapat mengembangkan diri menjadi lebih baik lagi.

Strategi refleksi terbagi menjadi 2 macam, yaitu: self-distanced dan self-immerse.

Self-distanced adalah memikirkan kembali peristiwa yang terjadi, dari sudut pandang orang ketiga, seakan-akan kita sedang mengobservasi diri kita sendiri dari jarak pandang tertentu.

Self-immersed adalah memikirkan kejadian sulit di masa lalu secara rinci, dengan merasakan kembali emosi yang ada, seakan-akan mengalami kejadian tersebut lagi dan lagi.

Sebagai gambaran, saya akan memberi contoh masing-masing strategi refleksi tersebut (dikutip dari Kross & Ayduk, 2011, p. 188):

Self-distanced: “I thought of the days and months running up to the conflict, and was reminded of the academic stress and emotional turmoil I was going through, combined with a lack of satisfaction with things in general. All these underlyning currents and frustration led me to be irritable, and thus sparked the conflict over a silly argument …”

Self-immersed: “I was appaled that my boyfriend told me he couldn’t connect with me, because he thought I was going to hell. I cried and sat on the floor of may dorm hall-way, and tried to prove to him that my belief was the same as his …

Jadi mulai sekarang, mari kita berefleksi secara self-distanced ya teman 😀

Gambar: www.wallpaperswide.com

Sumber: Sahrani, R. (2014). Peranan refleksi, strategi refleksi, kesulitan hidup, dan usia terhadap kebijaksanaan. Disertasi, Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia.

let’s do reflection

Pernah suatu ketika saya menanyakan pada seorang mahasiswa saya, apakah ia sudah melakukan refleksi. Jawaban yang saya terima cukup membuat saya terpana: “Pernah Bu, di Salon kan?”. Jadi jelaslah bagi saya, bahwa tidak semua orang akrab dengan istilah “refleksi”, yang menjadi salah satu pokok pembahasan bidang ilmu Filsafat dan juga Psikologi.

Penelitian saya sendiri adalah mengenai keterkaitan antara kebijaksanaan (wisdom) dengan refleksi (reflection). Hasil yang saya dapatkan yaitu bahwa salah satu penyumbang terbesar kebijaksanaan seseorang adalah apabila ia melakukan refleksi (faktor lain yang saya teliti adalah pengalaman hidup yang sulit, usia, dan strategi refleksi).

Kebijaksanaan sangatlah penting untuk dicapai individu. Hal ini karena kebijaksanaan adalah kepandaian individu, baik secara kognitif, afektif, dan perilaku, serta adanya kemauan untuk melakukan refleksi, dalam menilai dan memutuskan suatu masalah. Dengan kebijaksanaan akan tercipta keharmonisan antara individu dan lingkungan (Sahrani, 2014).

Jadi sebenarnya apa itu refleksi dan bagaimana cara kita melakukannya?

Saya akan berusaha menguraikannya dengan penjelasan berikut ini. Orang awam mengenal refleksi sebagai “evaluasi”. Jadi apabila kita bertanya apakah seseorang sudah melakukan evaluasi pengalaman hidupnya, boleh jadi ia akan langsung memahami artinya.

Sebenarnya apakah evaluasi itu sama dengan refleksi? Pada evaluasi, kita akan berusaha mengingat kembali pengalaman hidup kita dan kemudian menilai, apakah kita sudah (atau belum) mencapai apa yang kita idamkan sebelumnya. Sedangkan pada refleksi, individu akan berusaha mengkaji pengalaman hidupnya secara lebih mendalam (terutama pengalaman hidup yang sulit), baik secara kognitif maupun afektif.

Boud, Keogh, dan Walker (1985) mengemukakan bahwa ada tiga tahapan dalam proses refleksi, yaitu: returning to the experience (mengkaji pengalaman), attending to feelings (mengkaji perasaan yang ada, baik yang mendorong atau hal yang membuat individu menghindari refleksi), dan re-evaluating the experience (mengevaluasi atau menilai kembali pengalaman tersebut).

Jadi dalam melakukan refleksi, kita akan berusaha memikirkan, menganalisa, dan memahami tindakan atau peristiwa yang terjadi pada diri kita. Dengan melakukan refleksi diharapkan orang dapat belajar dari pengalaman hidupnya, sehingga dapat mengembangkan diri menjadi lebih baik. Hal ini karena refleksi juga akan menimbulkan adanya kepekaan dan kesadaran diri yang lebih tinggi kualitasnya dari sebelumnya (Ardelt, 2003).

Apabila refleksi dilakukan secara efektif, maka akan timbul pembelajaran pada individu, yaitu adanya perubahan makna dan cara pandang individu terhadap suatu masalah (Boud et al., 1985).

Gambar: www.pinterest.com

Sumber tulisan:

Artikel di atas sudah diterbitkan di web Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara, edisi 16/02/2016, dengan judul “Refleksi: Sarana menuju Kebijaksanaan”

experience is the best teacher

Pengalaman adalah guru terbaik. Itu yang sering kita dengar dari pepatah, orang tua, atau pun para ‘senior’ kita. Namun, betulkah demikian?

Hampir dapat dipastikan bahwa, sebagian besar manusia di dunia ini pernah merasakan pengalaman hidup yang sulit. Permasalahan yang pernah kita alami tidak selalu sama dengan orang lain, bahkan seringkali sangat berbeda, unik, spesial, hanya kita yang merasakan.

Akan tetapi, benarkah kita dapat menggunakan pengalaman kita tersebut itu sebagai guru terbaik kita?

Seperti yang sudah saya kemukakan di artikel sebelumnya, bahwa ada pengalaman atau permasalahan yang sifatnya non normatif … jadi pengalaman kita itu unik, hanya milik kita. Selanjutnya, saya kemukakan juga bahwa remaja sebetulnya punya potensi untuk menjadi bijaksana, salah satunya dengan berusaha mendapatkan pengetahuan dan fakta dalam kehidupan. Hal ini dapat kita peroleh dari pengalaman hidup.

Akan tetapi sayangnya, pengalaman kita yang unik tadi tidak selalu menjadi guru terbaik, yang dapat menambah pengetahuan kita mengenai kehidupan. Bahkan, ada orang yang justru tidak ingin lagi mengingat pengalaman ‘pahit’-nya, karena menimbulkan sakit hati dan perasaan sedih berkepanjangan.

Pengalaman berharga tadi baru akan menjadi hal yang bermanfaat, apabila kita mampu merefleksikannya dengan cara yang positif.

Jadi dengan melakukan refleksi, kita akan berusaha memikirkan, menganalisa, dan memahami tindakan atau peristiwa yang terjadi pada diri kita. Apabila refleksi berhasil, maka kita pun akan mendapatkan insight dan belajar dari pengalaman hidup, sehingga dapat mengembangkan diri menjadi lebih baik. Aamiin.

Gambar: www.cartoonstock.com

yang muda, yang bijaksana

Apa mungkin ya remaja bisa bijaksana?

Bapak Erikson pada tahun 1959 (dalam Baltes & Staudinger, 2000) mengemukakan bahwa, orang lanjut usia (lansia) berpotensi bijaksana. Hal ini karena lansia sudah lebih banyak “makan asam-garam” kehidupan, sehingga punya pengalaman yang lebih banyak dan pengetahuan yang lebih luas.

Untungnya, hasil penelitian selanjutnya membuktikan bahwa, remajapun bisa bijaksana loh (Pasupathi, Staudinger & Baltes, 2001). Para peneliti ini menemukan bahwa remaja sebetulnya mampu memenuhi kriteria basic level wisdom, yaitu: factual dan procedural knowledge of life.

Factual knowledge of life artinya: remaja yang berpotensi bijaksana, mempunyai pengetahuan dasar dan fakta-fakta dalam kehidupan. Sebagai contoh, ia punya pengetahuan dasar mengenai apa saja karakeristik yang sering muncul pada tahapan usia tertentu, misalnya saja usia remaja. Ia paham bahwa remaja itu masanya mencari identitas dan umumnya masih membutuhkan perhatian. Maka dari itu, remaja senang berkelompok dengan peer group-nya (teman sepermainan).

Selanjutnya, kalau procedural knowledge of life adalah: pengetahuan dan strategi dasar dalam mengatasi masalah. Misalnya, ada remaja mengalami stres karena nilai ujiannya kurang bagus. Nah, apabila ia berpotensi menjadi remaja bijaksana, seharusnya ia mampu mencari jalan keluar dari masalah tersebut. Misalnya, dengan membuat perencanaan belajar yang lebih baik, bertanya pada senior, bertanya pada guru atau dosen mengenai hal yang kurang ia kuasai, dan sebagainya.

Jadi, ternyata bukan hal yang mustahil kan bagi remaja dan orang muda untuk menjadi orang yang bijaksana. Tinggal persoalannya adalah: “Mau ga sih jadi bijaksana?”

Gambar: www.pixabay.com

Sumber bacaan:

Baltes, P. B., & Staudinger, U. M. (2000). Wisdom: A metaheuristic (pragmatic) to orchestrate mind and virtue toward excellence. American Psychologist, 55, 122-135.

Pasupathi, M., Staudinger, U. M., & Baltes, P. B. (2001). Seed of wisdom: Adolescents’ knowledge and judgment about difficult life problems. Developmental Psychology, 37, 351-361.

wisdom: what for?

Di zaman era digital yang serba canggih ini, semua hal bisa kita cari informasinya di “mbah” Google … mulai dari tanya apa resep sayur asem, sampai cara mengatasi putus cinta. Jadi apa masih perlu bicara soal wisdom?

Hidup ini ibarat roda berputar, kadang naik … kadang turun … Nah, kita tidak pernah tahu kapan kita akan di posisi “turun” atau di bawah. Kondisi turun itu tidak selalu dalam hal materi, bisa dalam hal apa saja, misalnya emosi. Sebagai contoh, masalah “berat” menimpa kita, terus kita mau bertanya pada Google … eee … kebetulan listrik mati, internet mati, hape rusak 🙁 apa ga tambah stres …

Dalam psikologi, pengalaman hidup kita dibagi menjadi beberapa kategori. Ada pengalaman yang sifatnya normatif dan ada yang non normatif. Pengalaman normatif, dialami oleh hampir semua orang yang mempunyai usia setara. Misalnya, di usia remaja umumnya sedang mencari identitas, senang berkelompok dengan peer group-nya, sedang sekolah atau kuliah, dan sebagainya.

Nah, kalau pengalaman non normatif itu sifatnya khas, unik, hanya dimiliki individu tertentu. Misalnya, ada seorang remaja yang tiba-tiba mengalami musibah tertentu (misalnya kecelakaan, terkena penyakit, orang tua bercerai, putus pacaran, putus sekolah, dan sebagainya), sehingga ia pun menjadi punya pengalaman berbeda dengan remaja pada umumnya. Maka, dalam kondisi non normatif inilah wisdom sangat diperlukan 😀

Wisdom (kebijaksanaan/kearifan) itu -setelah saya rangkum dari berbagai sumber- merupakan suatu kemampuan individu dalam mengintegrasikan pikiran, perasaan, dan perilakunya, untuk kemaslahatan bersama dan lingkungan. Jadi orang yang wise itu mempunyai pengetahuan yang luas, kepribadian yang baik, serta akan berusaha mengatasi suatu permasalahan (baik masalahnya sendiri maupun orang lain).

Penelitian saya mengenai wisdom tahun 2014, menghasilkan temuan bahwa refleksi (evaluasi diri) adalah salah satu cara yang efektif untuk menjadi orang yang wise. Di tulisan saya selanjutnya akan kita diskusikan lagi ya mengenai hal ini. Terimakasih teman-teman semua 😀

 Gambar: www.clipartbest.com

Sumber:

Sahrani, R. (2014). Peranan refleksi, strategi refleksi, kesulitan hidup, dan usia terhadap kebijaksanaan. Disertasi, Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia.

blessing in disguise

Alasan saya membuat blog wisdomworld ini sebenarnya bukan sekonyong-konyong atau tiba-tiba. Saya pernah juga membuat blog tentang wisdom di WordPress, sekitar beberapa tahun lalu. Cuma waktu itu terhenti karena tiba-tiba pikiran saya “nge-blog”… hehe … apalagi ya yang mau ditulis?

Kebetulan sekali, saya harus memberikan tugas pada para mahasiswa tentang penerapan teknologi. Kebetulan lagi, PANDI memberikan kesempatan pada saya untuk mewujudkannya … Alhamdulillah. Jadi memang benar sekali, usaha itu perlu didukung juga oleh kesempatan.  Terimakasih banyak PANDI 😀

Saya berusaha menerapkan suatu teori atau apapun yang saya pikirkan, pada diri saya sendiri dulu. Jadilah blog wisdomworld ini 😀 Selain itu, kalau kita memikirkan suatu hal yang kita inginkan, lalu kita berusaha sekeras mungkin untuk mewujudkannya, maka: “alam semesta akan mendukung”. Kalimat tadi sering diucapkan kolega saya sesama dosen, yaitu Bapak Putu Tommy Yudha Sumatera Suyasa … hehe … Konsep psikologi yang dapat menjelaskan adalah “self-fulfilling prophecy”, yang dikemukakan oleh Merton tahun 1957. Singkatnya adalah: “apa yang kita pikirkan, itulah yang akan kita dapatkan”.

Jadi, saya patut bersyukur dengan adanya tugas ini … karena saya pun jadi belajar kembali mengenai psikologi. Hal ini merupakan “blessing in disguise”, karena semua hal pasti ada hikmahnya. Saat ini kemungkinan di antara para mahasiswa saya ada yang kurang nyaman dengan tugas ini, namun saya berharap bahwa di suatu hari nanti tugas ini memberikan manfaat. Aamiin. Terimakasih anak-anakku semua, kalian juga merupakan inspirasi saya 😀

Gambar: wallpaperswide.com

 

awal ketertarikan pada psikologi

Ketertarikan saya pada psikologi bermula pada saat saya di SMA (tahun 1985-1987). Pada saat itu saya senang sekali membaca, terutama koran KOMPAS. Saya membaca rubrik Psikologi yang ada setiap hari Minggu. Pengelola rubrik tersebut pada waktu itu adalah almarhum Bapak M.A.W. Brouwer, seorang psikolog berdarah Belanda. Beliau sangat pandai dalam menganalisa dan menjawab permasalahan yang ditulis para pembacanya. Jawabannya selalu tegas dan lugas, tanpa banyak basa-basi. Itulah yang saya suka dari beliau, sikap tegas dan apa adanya, tidak berusaha untuk membuat orang lain senang apalagi memberikan harapan palsu. Pembaca diajak untuk memikirkan masalahnya sendiri dan berusaha menjawab sendiri 😀 Terkadang saya juga bingung, sebenarnya apa yang dijawab ya… maklum waktu itu saya belum belajar psikologi, hanya terkagum-kagum saja dengan kepandaian Pak Brouwer…

Kalau saya pikir-pikir kembali, sepertinya saya memilih psikologi waktu S1 dulu dengan dasar yang kurang jelas. Kalau saya kaitkan dengan teori James Marcia mengenai teori identitas, saya masuk dalam kategori foreclosure. Jadi saya tidak merasakan adanya krisis, namun saya berkomitmen untuk belajar psikologi. Untungnya walau dengan alasan masuk psikologi yang kurang kuat tadi, saya akhirnya bisa lulus juga …walau penuh dengan perjuangan 😀

Setelah saya masuk S1 Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, saya pun menemukan orang yang mirip dengan karakter Bapak Brouwer tadi. Saya pikir almarhum Bapak Sarlito Wirawan Sarwono, tokoh Psikologi Indonesia, hampir sama … beliau juga sangat cerdas, rajin menulis buku, kalau bicara “blak-blakan”, dan pernah juga menjadi pengelola rubrik psikologi di KOMPAS. Selain itu, ada Bapak Rudolf Woodrow (Budi) Matindas, yang sepertinya keturunan Belanda juga. Beliau juga smart, kalau bicara to the point, dan penampilannya “cool”, idola para mahasiswa …hehe… Akhirnya, saya bertemu juga dengan para idola saya… walau dengan nama dan orang yang berbeda 😀 Alhamdulillah …

Jadi, kalau saya merefleksikan apa yang sudah saya lalui tadi, saya mendapatkan insight bahwa: kita bisa saja mendapatkan inspirasi dari apa saja, dari hal kecil sekalipun. Selain itu, jangan meremehkan kekuatan inspirasi tadi, ternyata hal kecil juga mampu menggerakkan seseorang menjadi sesuatu. Bisa jadi kita mampu menginspirasi orang lain… Aamiin. Jadi, be wise ya 😀

Gambar: wallpaperswide.com