wisdom: what for?

Di zaman era digital yang serba canggih ini, semua hal bisa kita cari informasinya di “mbah” Google … mulai dari tanya apa resep sayur asem, sampai cara mengatasi putus cinta. Jadi apa masih perlu bicara soal wisdom?

Hidup ini ibarat roda berputar, kadang naik … kadang turun … Nah, kita tidak pernah tahu kapan kita akan di posisi “turun” atau di bawah. Kondisi turun itu tidak selalu dalam hal materi, bisa dalam hal apa saja, misalnya emosi. Sebagai contoh, masalah “berat” menimpa kita, terus kita mau bertanya pada Google … eee … kebetulan listrik mati, internet mati, hape rusak 🙁 apa ga tambah stres …

Dalam psikologi, pengalaman hidup kita dibagi menjadi beberapa kategori. Ada pengalaman yang sifatnya normatif dan ada yang non normatif. Pengalaman normatif, dialami oleh hampir semua orang yang mempunyai usia setara. Misalnya, di usia remaja umumnya sedang mencari identitas, senang berkelompok dengan peer group-nya, sedang sekolah atau kuliah, dan sebagainya.

Nah, kalau pengalaman non normatif itu sifatnya khas, unik, hanya dimiliki individu tertentu. Misalnya, ada seorang remaja yang tiba-tiba mengalami musibah tertentu (misalnya kecelakaan, terkena penyakit, orang tua bercerai, putus pacaran, putus sekolah, dan sebagainya), sehingga ia pun menjadi punya pengalaman berbeda dengan remaja pada umumnya. Maka, dalam kondisi non normatif inilah wisdom sangat diperlukan 😀

Wisdom (kebijaksanaan/kearifan) itu -setelah saya rangkum dari berbagai sumber- merupakan suatu kemampuan individu dalam mengintegrasikan pikiran, perasaan, dan perilakunya, untuk kemaslahatan bersama dan lingkungan. Jadi orang yang wise itu mempunyai pengetahuan yang luas, kepribadian yang baik, serta akan berusaha mengatasi suatu permasalahan (baik masalahnya sendiri maupun orang lain).

Penelitian saya mengenai wisdom tahun 2014, menghasilkan temuan bahwa refleksi (evaluasi diri) adalah salah satu cara yang efektif untuk menjadi orang yang wise. Di tulisan saya selanjutnya akan kita diskusikan lagi ya mengenai hal ini. Terimakasih teman-teman semua 😀

 Gambar: www.clipartbest.com

Sumber:

Sahrani, R. (2014). Peranan refleksi, strategi refleksi, kesulitan hidup, dan usia terhadap kebijaksanaan. Disertasi, Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *