experience is the best teacher

Pengalaman adalah guru terbaik. Itu yang sering kita dengar dari pepatah, orang tua, atau pun para ‘senior’ kita. Namun, betulkah demikian?

Hampir dapat dipastikan bahwa, sebagian besar manusia di dunia ini pernah merasakan pengalaman hidup yang sulit. Permasalahan yang pernah kita alami tidak selalu sama dengan orang lain, bahkan seringkali sangat berbeda, unik, spesial, hanya kita yang merasakan.

Akan tetapi, benarkah kita dapat menggunakan pengalaman kita tersebut itu sebagai guru terbaik kita?

Seperti yang sudah saya kemukakan di artikel sebelumnya, bahwa ada pengalaman atau permasalahan yang sifatnya non normatif … jadi pengalaman kita itu unik, hanya milik kita. Selanjutnya, saya kemukakan juga bahwa remaja sebetulnya punya potensi untuk menjadi bijaksana, salah satunya dengan berusaha mendapatkan pengetahuan dan fakta dalam kehidupan. Hal ini dapat kita peroleh dari pengalaman hidup.

Akan tetapi sayangnya, pengalaman kita yang unik tadi tidak selalu menjadi guru terbaik, yang dapat menambah pengetahuan kita mengenai kehidupan. Bahkan, ada orang yang justru tidak ingin lagi mengingat pengalaman ‘pahit’-nya, karena menimbulkan sakit hati dan perasaan sedih berkepanjangan.

Pengalaman berharga tadi baru akan menjadi hal yang bermanfaat, apabila kita mampu merefleksikannya dengan cara yang positif.

Jadi dengan melakukan refleksi, kita akan berusaha memikirkan, menganalisa, dan memahami tindakan atau peristiwa yang terjadi pada diri kita. Apabila refleksi berhasil, maka kita pun akan mendapatkan insight dan belajar dari pengalaman hidup, sehingga dapat mengembangkan diri menjadi lebih baik. Aamiin.

Gambar: www.cartoonstock.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *