let’s do reflection

Pernah suatu ketika saya menanyakan pada seorang mahasiswa saya, apakah ia sudah melakukan refleksi. Jawaban yang saya terima cukup membuat saya terpana: “Pernah Bu, di Salon kan?”. Jadi jelaslah bagi saya, bahwa tidak semua orang akrab dengan istilah “refleksi”, yang menjadi salah satu pokok pembahasan bidang ilmu Filsafat dan juga Psikologi.

Penelitian saya sendiri adalah mengenai keterkaitan antara kebijaksanaan (wisdom) dengan refleksi (reflection). Hasil yang saya dapatkan yaitu bahwa salah satu penyumbang terbesar kebijaksanaan seseorang adalah apabila ia melakukan refleksi (faktor lain yang saya teliti adalah pengalaman hidup yang sulit, usia, dan strategi refleksi).

Kebijaksanaan sangatlah penting untuk dicapai individu. Hal ini karena kebijaksanaan adalah kepandaian individu, baik secara kognitif, afektif, dan perilaku, serta adanya kemauan untuk melakukan refleksi, dalam menilai dan memutuskan suatu masalah. Dengan kebijaksanaan akan tercipta keharmonisan antara individu dan lingkungan (Sahrani, 2014).

Jadi sebenarnya apa itu refleksi dan bagaimana cara kita melakukannya?

Saya akan berusaha menguraikannya dengan penjelasan berikut ini. Orang awam mengenal refleksi sebagai “evaluasi”. Jadi apabila kita bertanya apakah seseorang sudah melakukan evaluasi pengalaman hidupnya, boleh jadi ia akan langsung memahami artinya.

Sebenarnya apakah evaluasi itu sama dengan refleksi? Pada evaluasi, kita akan berusaha mengingat kembali pengalaman hidup kita dan kemudian menilai, apakah kita sudah (atau belum) mencapai apa yang kita idamkan sebelumnya. Sedangkan pada refleksi, individu akan berusaha mengkaji pengalaman hidupnya secara lebih mendalam (terutama pengalaman hidup yang sulit), baik secara kognitif maupun afektif.

Boud, Keogh, dan Walker (1985) mengemukakan bahwa ada tiga tahapan dalam proses refleksi, yaitu: returning to the experience (mengkaji pengalaman), attending to feelings (mengkaji perasaan yang ada, baik yang mendorong atau hal yang membuat individu menghindari refleksi), dan re-evaluating the experience (mengevaluasi atau menilai kembali pengalaman tersebut).

Jadi dalam melakukan refleksi, kita akan berusaha memikirkan, menganalisa, dan memahami tindakan atau peristiwa yang terjadi pada diri kita. Dengan melakukan refleksi diharapkan orang dapat belajar dari pengalaman hidupnya, sehingga dapat mengembangkan diri menjadi lebih baik. Hal ini karena refleksi juga akan menimbulkan adanya kepekaan dan kesadaran diri yang lebih tinggi kualitasnya dari sebelumnya (Ardelt, 2003).

Apabila refleksi dilakukan secara efektif, maka akan timbul pembelajaran pada individu, yaitu adanya perubahan makna dan cara pandang individu terhadap suatu masalah (Boud et al., 1985).

Gambar: www.pinterest.com

Sumber tulisan:

Artikel di atas sudah diterbitkan di web Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara, edisi 16/02/2016, dengan judul “Refleksi: Sarana menuju Kebijaksanaan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *