strategi refleksi

Refleksi pengalaman hidup sulit atau yang sifatnya traumatis, biasanya cenderung dihindari individu. Padahal, kalau kita melakukan refleksi dengan strategi yang “benar”, maka hal ini justru akan membuat “pencerahan” dan menimbulkan insight dalam diri kita. Dengan demikian, kita dapat mengembangkan diri menjadi lebih baik lagi.

Strategi refleksi terbagi menjadi 2 macam, yaitu: self-distanced dan self-immerse.

Self-distanced adalah memikirkan kembali peristiwa yang terjadi, dari sudut pandang orang ketiga, seakan-akan kita sedang mengobservasi diri kita sendiri dari jarak pandang tertentu.

Self-immersed adalah memikirkan kejadian sulit di masa lalu secara rinci, dengan merasakan kembali emosi yang ada, seakan-akan mengalami kejadian tersebut lagi dan lagi.

Sebagai gambaran, saya akan memberi contoh masing-masing strategi refleksi tersebut (dikutip dari Kross & Ayduk, 2011, p. 188):

Self-distanced: “I thought of the days and months running up to the conflict, and was reminded of the academic stress and emotional turmoil I was going through, combined with a lack of satisfaction with things in general. All these underlyning currents and frustration led me to be irritable, and thus sparked the conflict over a silly argument …”

Self-immersed: “I was appaled that my boyfriend told me he couldn’t connect with me, because he thought I was going to hell. I cried and sat on the floor of may dorm hall-way, and tried to prove to him that my belief was the same as his …

Jadi mulai sekarang, mari kita berefleksi secara self-distanced ya teman 😀

Gambar: www.wallpaperswide.com

Sumber: Sahrani, R. (2014). Peranan refleksi, strategi refleksi, kesulitan hidup, dan usia terhadap kebijaksanaan. Disertasi, Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *