blessing in disguise

Alasan saya membuat blog wisdomworld ini sebenarnya bukan sekonyong-konyong atau tiba-tiba. Saya pernah juga membuat blog tentang wisdom di WordPress, sekitar beberapa tahun lalu. Cuma waktu itu terhenti karena tiba-tiba pikiran saya “nge-blog”… hehe … apalagi ya yang mau ditulis?

Kebetulan sekali, saya harus memberikan tugas pada para mahasiswa tentang penerapan teknologi. Kebetulan lagi, PANDI memberikan kesempatan pada saya untuk mewujudkannya … Alhamdulillah. Jadi memang benar sekali, usaha itu perlu didukung juga oleh kesempatan.  Terimakasih banyak PANDI 😀

Saya berusaha menerapkan suatu teori atau apapun yang saya pikirkan, pada diri saya sendiri dulu. Jadilah blog wisdomworld ini 😀 Selain itu, kalau kita memikirkan suatu hal yang kita inginkan, lalu kita berusaha sekeras mungkin untuk mewujudkannya, maka: “alam semesta akan mendukung”. Kalimat tadi sering diucapkan kolega saya sesama dosen, yaitu Bapak Putu Tommy Yudha Sumatera Suyasa … hehe … Konsep psikologi yang dapat menjelaskan adalah “self-fulfilling prophecy”, yang dikemukakan oleh Merton tahun 1957. Singkatnya adalah: “apa yang kita pikirkan, itulah yang akan kita dapatkan”.

Jadi, saya patut bersyukur dengan adanya tugas ini … karena saya pun jadi belajar kembali mengenai psikologi. Hal ini merupakan “blessing in disguise”, karena semua hal pasti ada hikmahnya. Saat ini kemungkinan di antara para mahasiswa saya ada yang kurang nyaman dengan tugas ini, namun saya berharap bahwa di suatu hari nanti tugas ini memberikan manfaat. Aamiin. Terimakasih anak-anakku semua, kalian juga merupakan inspirasi saya 😀

Gambar: wallpaperswide.com

 

awal ketertarikan pada psikologi

Ketertarikan saya pada psikologi bermula pada saat saya di SMA (tahun 1985-1987). Pada saat itu saya senang sekali membaca, terutama koran KOMPAS. Saya membaca rubrik Psikologi yang ada setiap hari Minggu. Pengelola rubrik tersebut pada waktu itu adalah almarhum Bapak M.A.W. Brouwer, seorang psikolog berdarah Belanda. Beliau sangat pandai dalam menganalisa dan menjawab permasalahan yang ditulis para pembacanya. Jawabannya selalu tegas dan lugas, tanpa banyak basa-basi. Itulah yang saya suka dari beliau, sikap tegas dan apa adanya, tidak berusaha untuk membuat orang lain senang apalagi memberikan harapan palsu. Pembaca diajak untuk memikirkan masalahnya sendiri dan berusaha menjawab sendiri 😀 Terkadang saya juga bingung, sebenarnya apa yang dijawab ya… maklum waktu itu saya belum belajar psikologi, hanya terkagum-kagum saja dengan kepandaian Pak Brouwer…

Kalau saya pikir-pikir kembali, sepertinya saya memilih psikologi waktu S1 dulu dengan dasar yang kurang jelas. Kalau saya kaitkan dengan teori James Marcia mengenai teori identitas, saya masuk dalam kategori foreclosure. Jadi saya tidak merasakan adanya krisis, namun saya berkomitmen untuk belajar psikologi. Untungnya walau dengan alasan masuk psikologi yang kurang kuat tadi, saya akhirnya bisa lulus juga …walau penuh dengan perjuangan 😀

Setelah saya masuk S1 Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, saya pun menemukan orang yang mirip dengan karakter Bapak Brouwer tadi. Saya pikir almarhum Bapak Sarlito Wirawan Sarwono, tokoh Psikologi Indonesia, hampir sama … beliau juga sangat cerdas, rajin menulis buku, kalau bicara “blak-blakan”, dan pernah juga menjadi pengelola rubrik psikologi di KOMPAS. Selain itu, ada Bapak Rudolf Woodrow (Budi) Matindas, yang sepertinya keturunan Belanda juga. Beliau juga smart, kalau bicara to the point, dan penampilannya “cool”, idola para mahasiswa …hehe… Akhirnya, saya bertemu juga dengan para idola saya… walau dengan nama dan orang yang berbeda 😀 Alhamdulillah …

Jadi, kalau saya merefleksikan apa yang sudah saya lalui tadi, saya mendapatkan insight bahwa: kita bisa saja mendapatkan inspirasi dari apa saja, dari hal kecil sekalipun. Selain itu, jangan meremehkan kekuatan inspirasi tadi, ternyata hal kecil juga mampu menggerakkan seseorang menjadi sesuatu. Bisa jadi kita mampu menginspirasi orang lain… Aamiin. Jadi, be wise ya 😀

Gambar: wallpaperswide.com