Kebijaksanaan versi Indonesia

Seperti apa ya orang yang bijaksana dalam pandangan orang Indonesia?

Ada 5 karakteristik orang yang bijaksana versi orang Indonesia (Basri, 2001), yaitu:

(a) memiliki kondisi spiritual-moral yang baik (bertakwa, religius/beriman, saleh, tawakal, sederhana/bersahaja kehidupannya, tutur kata halus/lemah lembut/sopan santun, tabah, dan tegas)

(b) Mampu berinteraksi dengan orang lain (murah hati, mau berkorban, penyayang pada semua, tulus ikhlas, mengayomi/melindungi, pemaaf, penuh pengertian)

(c) mempunyai kemampuan menilai dan mengambil keputusan (meninjau permasalahan dari berbagai sudut pandang, lebih memperhatikan kepentingan orang banyak daripada kepentingan pribadi, mampu memutuskan secara tepat, filosofis/berpandangan menyeluruh terhadap kehidupan, adil)

(d) memiliki kondisi personal yang baik (mawas diri, bertanggungjawab, konsekuen, percaya diri)

(e) memiliki  kemampuan khusus/istimewa (cerdas/kompeten, intuitif, berpengetahuan dan berwawasan luas,
berempati).

Ternyata tidak mudah ya menjadi orang yang bijaksana 😀 tapi semua mungkin saja terjadi ya teman 👍

 

 

yang muda, yang bijaksana

Apa mungkin ya remaja bisa bijaksana?

Bapak Erikson pada tahun 1959 (dalam Baltes & Staudinger, 2000) mengemukakan bahwa, orang lanjut usia (lansia) berpotensi bijaksana. Hal ini karena lansia sudah lebih banyak “makan asam-garam” kehidupan, sehingga punya pengalaman yang lebih banyak dan pengetahuan yang lebih luas.

Untungnya, hasil penelitian selanjutnya membuktikan bahwa, remajapun bisa bijaksana loh (Pasupathi, Staudinger & Baltes, 2001). Para peneliti ini menemukan bahwa remaja sebetulnya mampu memenuhi kriteria basic level wisdom, yaitu: factual dan procedural knowledge of life.

Factual knowledge of life artinya: remaja yang berpotensi bijaksana, mempunyai pengetahuan dasar dan fakta-fakta dalam kehidupan. Sebagai contoh, ia punya pengetahuan dasar mengenai apa saja karakeristik yang sering muncul pada tahapan usia tertentu, misalnya saja usia remaja. Ia paham bahwa remaja itu masanya mencari identitas dan umumnya masih membutuhkan perhatian. Maka dari itu, remaja senang berkelompok dengan peer group-nya (teman sepermainan).

Selanjutnya, kalau procedural knowledge of life adalah: pengetahuan dan strategi dasar dalam mengatasi masalah. Misalnya, ada remaja mengalami stres karena nilai ujiannya kurang bagus. Nah, apabila ia berpotensi menjadi remaja bijaksana, seharusnya ia mampu mencari jalan keluar dari masalah tersebut. Misalnya, dengan membuat perencanaan belajar yang lebih baik, bertanya pada senior, bertanya pada guru atau dosen mengenai hal yang kurang ia kuasai, dan sebagainya.

Jadi, ternyata bukan hal yang mustahil kan bagi remaja dan orang muda untuk menjadi orang yang bijaksana. Tinggal persoalannya adalah: “Mau ga sih jadi bijaksana?”

Gambar: www.pixabay.com

Sumber bacaan:

Baltes, P. B., & Staudinger, U. M. (2000). Wisdom: A metaheuristic (pragmatic) to orchestrate mind and virtue toward excellence. American Psychologist, 55, 122-135.

Pasupathi, M., Staudinger, U. M., & Baltes, P. B. (2001). Seed of wisdom: Adolescents’ knowledge and judgment about difficult life problems. Developmental Psychology, 37, 351-361.

wisdom: what for?

Di zaman era digital yang serba canggih ini, semua hal bisa kita cari informasinya di “mbah” Google … mulai dari tanya apa resep sayur asem, sampai cara mengatasi putus cinta. Jadi apa masih perlu bicara soal wisdom?

Hidup ini ibarat roda berputar, kadang naik … kadang turun … Nah, kita tidak pernah tahu kapan kita akan di posisi “turun” atau di bawah. Kondisi turun itu tidak selalu dalam hal materi, bisa dalam hal apa saja, misalnya emosi. Sebagai contoh, masalah “berat” menimpa kita, terus kita mau bertanya pada Google … eee … kebetulan listrik mati, internet mati, hape rusak 🙁 apa ga tambah stres …

Dalam psikologi, pengalaman hidup kita dibagi menjadi beberapa kategori. Ada pengalaman yang sifatnya normatif dan ada yang non normatif. Pengalaman normatif, dialami oleh hampir semua orang yang mempunyai usia setara. Misalnya, di usia remaja umumnya sedang mencari identitas, senang berkelompok dengan peer group-nya, sedang sekolah atau kuliah, dan sebagainya.

Nah, kalau pengalaman non normatif itu sifatnya khas, unik, hanya dimiliki individu tertentu. Misalnya, ada seorang remaja yang tiba-tiba mengalami musibah tertentu (misalnya kecelakaan, terkena penyakit, orang tua bercerai, putus pacaran, putus sekolah, dan sebagainya), sehingga ia pun menjadi punya pengalaman berbeda dengan remaja pada umumnya. Maka, dalam kondisi non normatif inilah wisdom sangat diperlukan 😀

Wisdom (kebijaksanaan/kearifan) itu -setelah saya rangkum dari berbagai sumber- merupakan suatu kemampuan individu dalam mengintegrasikan pikiran, perasaan, dan perilakunya, untuk kemaslahatan bersama dan lingkungan. Jadi orang yang wise itu mempunyai pengetahuan yang luas, kepribadian yang baik, serta akan berusaha mengatasi suatu permasalahan (baik masalahnya sendiri maupun orang lain).

Penelitian saya mengenai wisdom tahun 2014, menghasilkan temuan bahwa refleksi (evaluasi diri) adalah salah satu cara yang efektif untuk menjadi orang yang wise. Di tulisan saya selanjutnya akan kita diskusikan lagi ya mengenai hal ini. Terimakasih teman-teman semua 😀

 Gambar: www.clipartbest.com

Sumber:

Sahrani, R. (2014). Peranan refleksi, strategi refleksi, kesulitan hidup, dan usia terhadap kebijaksanaan. Disertasi, Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia.